Sabtu, 20 Januari 2018
Selasa, 13 Juni 2017
Sejarah
Asal
usul nama Indonesia
– Nama Indoneisa untuk pertama kalinya muncul di dunia yaitu terdapat pada
tulisan James Richardson Logan halaman 254 (1819-1869). Mr. Earl suggests
the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I
prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter
synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Logan adalah
orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Pada
saat mengusulkan nama Indonesia Logan tidak menyadari dan tidak menduga
ternyata nama Indonesia itu menjadi nama bangsa dan Negara yang mana jumlah
penduduknya merupakan peringkat keempat terbesar di dunia. Dari situlah James
Richardson Logan secara konsisten menggunakan nama Indonesia dalam karya
ilmiahnya, dan dengan seiring perjalanannya waktu pemakaian nama Indonesia
menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Inilah yang
menjadi titik awal mula nama Indonesia di dunia.
Pada tahun
1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian
(1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen
Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika
mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang
memopulerkan istilah Indonesia di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat
timbul anggapan bahwa istilah Indonesia itu ciptaan Bastian. Pendapat yang
tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van
Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah Indonesia itu
dari tulisan-tulisan Logan.
Putra ibu
pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah Indonesia adalah Suwardi
Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913
beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Rabu, 07 Juni 2017
Hikmah
Dahsyatnya
Sholawat
oleh Ki Buyut Sleman
Shalawat dan salam marilah kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad saw dan keluarga, sahabat-sahabat serta para pengikutnya.
Ada empat perbuatan ringan yang apabila kita lakukan, maka kita termasuk
golongan orang yang tidak terpuji.
1. Seseorang yang membuang air kecil sambil berdiri, 2. Seseorang yang
mengusap dahinya sebelum selesai dari shalat, 3. Seseorang yang mendengar adzan
tetapi ia tidak menirukan seperti apa yang diucapkan muadzin, 4. seseorang yang
apabila mendengar nama Nabi Muhammad Saw disebut, tetapi tidak membacakan
shalawat atasnya.
Sabda Nabi Muhammad Saw:
Artinya:
“Empat perbuatan termasuk perbuatan yang tidak terpuji, yaitu (1) bila
seseorang buang air kecil sambil berdiri, (2) seseorang yang mengusap dahinya
sebelum selesai dari shalat, (3). Seseorang yang mendengar adzan tetapi ia
tidak menirukan seperti yang diucapkan muadzin, (4) seseorang yang apabila
mendengar namaku disebut, tetapi ia tidak membacakan shalawat atasku. (HR.
Bazzar dan Tabhrani)
Sabtu, 03 Juni 2017
Sabtu, 26 November 2016
Catatan Harianku
AL Mubarok
ku
Al-mubarok...
Sudah cukup lama engkau tegak tanpa letih,
buat naungan hati yang gontai tertatih....
engkau berdiri begitu kokoh..
sebagai penempa insan pembentuk tokoh...
Sudah cukup lama engkau tegak tanpa letih,
buat naungan hati yang gontai tertatih....
engkau berdiri begitu kokoh..
sebagai penempa insan pembentuk tokoh...
Sabtu, 05 November 2016
Catatan Harianku
CATATAN HARIANKU
Empat puluh kali
empat puluh hari.
Sobat yang budiman, ini adalah kisah
perjalanku di dalam mengamalkan Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah Ponpes
Suryalaya ,ke inginan menulis ini semata mata sebagai bentuk rasa syukur atas
nikmat yang aku peroleh dan semoga kisah kisah yang aku tulis bisa memberi
manfaat bagi sobat yang membaca tulisan ini entah itu yag mengenalku ataupun
yang belum mengenalku……. Amiin.
Sobat yang budiman ,aku adalah seorang perantau, awal merantau ke Jakarta ikut Om /Pak Lik dari jalur kakek( Bpk Tarmidi sekarang beliau di semanan Kali deres Jak Bar),beliau membuka usaha Kompeksi di tahun 80-an ,dan pada tahun 1985 aku pindah ke serpong sampai sekarang .
Pada tahun 1993 aku belajar Dzikir Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah PonPes Suryalaya .
Kisah di bawah ini adalah sebagian dari banyak kisah yang saya alami selama empat puluh kali empat puluh hari pertamaku di dalam mengamalkan TQN Ponpes Suryalaya.
Awalnya biasa saja aku berdagang rokok di grobog rokok di pinggir jalan raya serpong tepatnya di depan pasar serpong,sehingga pada saatnya ada pelebaran jalan ,dan otomatis tempat dagangku kena gusur ,dan itulah awal mulanya saya tidak punya pekerjaan alias menganggur.
Sobat yang budiman ,aku adalah seorang perantau, awal merantau ke Jakarta ikut Om /Pak Lik dari jalur kakek( Bpk Tarmidi sekarang beliau di semanan Kali deres Jak Bar),beliau membuka usaha Kompeksi di tahun 80-an ,dan pada tahun 1985 aku pindah ke serpong sampai sekarang .
Pada tahun 1993 aku belajar Dzikir Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah PonPes Suryalaya .
Kisah di bawah ini adalah sebagian dari banyak kisah yang saya alami selama empat puluh kali empat puluh hari pertamaku di dalam mengamalkan TQN Ponpes Suryalaya.
Awalnya biasa saja aku berdagang rokok di grobog rokok di pinggir jalan raya serpong tepatnya di depan pasar serpong,sehingga pada saatnya ada pelebaran jalan ,dan otomatis tempat dagangku kena gusur ,dan itulah awal mulanya saya tidak punya pekerjaan alias menganggur.
Kamis, 03 November 2016
Motivasi
Allah SWT
telah menegaskan bahwa tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah untuk
mengabdi atau beribadah kepada-Nya.
"Dan
tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku." (QS.
Adz-Dzariyat:56)
Sebagian
orang menganggap demikian terbatasnya aktifitas manusia yang mengisi hidupnya
hanya untuk ibadah. Anggapan seperti ini terjadi karena pemahamannya tentang
ibadah masih kurang lengkap. Menurut mereka, ibadah itu hanya berkaitan dengan
ibadah ritual, seperti shalat, puasa, haji, dan yang semisal dengannya.
Sedangkan urusan selain itu dianggap bukan bagian dari ibadah.
Sebagaimana
kita maklumi, sesungguhnya manusia sangat perlu untuk melakukan usaha guna
memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu usaha tersebut dinamakan dengan bekerja.
Motivasi dalam bekerja itu bisa berbeda-beda. Ada yang bekerja sekedar untuk
memenuhi kebutuhan sendiri. Mayoritas orang melakukannya adalah karena untuk
memenuhi nafkah keluarganya. Banyaknya waktu yang digunakan sehari-hari untuk
bekerja biasanya mencapai 8 sampai 9 jam/hari. Jika bekerja itu tidak menjadi
bagian dari ibadah kepada Allah, maka alangkah banyaknya waktu terpakai yang
tidak digunakan untuk melaksanakan tugas pokok sebagai hamba Allah yakni
beribadah.
Apakah
bekerja mencari nafkah bisa menjadi bagian dari ibadah kepada Allah dan
bagaimanakah caranya? Pertanyaan ini sangat penting untuk ditemukan jawabannya
dalam kaitan membuat waktu kerja yang panjang itu menjadi bernilai ibadah.
Semakin banyak mengisi kehidupan dengan ibadah, maka akan semakin banyak pula
investasi akhirat yang dapat kita persiapkan.
Langganan:
Postingan (Atom)

